Mengintip Kesuksesan Petani di Malaka, Lahan 3 Hektar Hasilkan 21 Ton Jagung

20 Desember 2020, 21:47 WIB
Petani di Kanupaten Malaka Sedang Merontok jagung.( FOTO/VEN/MEDIAKUPANG) /

MEDIAKUPANG.COM, MALAKA - Joni Laka, petani di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) berhasil memanen hasil jagung 21 ton di Luas Lahan 3 hektar.

Ditemui media ini di kediamannya di Dusun Sukabiwedik Desa Kamanasa, Minggu 20 Desember 2020, Joni mengungkapkan panen yang melimpah merupakan hasil ketekunan selama ini mulai dari proses awal pemilihan bibit, penanaman semuanya dilakukan secara tekun sehingga memperoleh hasil yang memuaskan seperti saat ini.

Dengan hanya mengandalkan lahan persawahan yang hanya seluas 3 hektar dirinya mampu menghasilkan jagung sebanyak 21 Ton.

BACA JUGA : Berita Terkini Dari Alor, Nakes Dan Pasien Positif Corona, Dua Pegawai Bank NTT Reaktif

Menurutnya, keberhasilan yang diperolehnya itu bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat Kabupaten Malaka, khususnya di Desa Kamanasa bisa menggunakan lahan persawahan sebagai tempat untuk ditanami jagung pada musim kedua seperti saat ini.

Swasembada pangan, sebut Joni, menjadi program pembangunan pertanian yang strategis di Malaka karena memiliki dampak luas.hal ini terbukti dengan adanya program yang sudah digalakan oleh pemerintah saat ini.

"Ketersediaan pangan dalam  jumlah yang cukup, mutu bahan pangan yang baik, serta nilai gizi yang tinggi memiliki dampak luas pada perekonomian dan mutu sumber daya manusia Itu sendiri" kata Joni.

BACA JUGA : Kapal Perusak AS Lewati Selat Taiwan, Militer China Siaga Pantau Pergerakannya

BACA JUGA : MK Terima Puluhan Permohonan Sengketa Hasil Pilkada 2020

Ia berharap, sebagai salah satu bahan pangan utama, jagung diharapkan menjadi salah satu target utama pemerintahan Kabupaten Malaka kedepan untuk dapat mencapai swasembada pangan.

Dengan adanya kepemimpinan pemerintahan di Kabupaten Malaka yang akan datang dapat membuat terobosan - terobosan dibidang pertanian sehinggah dapat membantu merubah kesejahteraan para petani khususnya bagi para petani di Malaka.

Karena lanjutnya, ketika masyarakat bisa mengalami panen pada pada bulan-bulan November sampai Maret yang biasanya dianggap musim paceklik atau musim dimana bahan pangan sudah berkurang atau tidak cukup untuk kebutuhan masyarakat, Itu merupakan suatu hal yang luar biasa.

Hal ini tutur joni bisa dilihat setidaknya dari tiga indikator yaitu stabilitas harga, terutama pada akhir tahun, ketersediaan stok di beberapa industri pakan serta kegiatan panen jagung pada periode tersebut yang terus berlangsung.

Lebih lanjut jelas Joni," Indikator tentang frekuensi dan penyebaran panen sampai hari ini dapat kita lihat masih terus berlangsung didaerah Jawa, Sulawesi dan NTB sedangkan di NTT sendiri kegiatan panen pada bulan - bulan sekarang sangat minim bahkan hampir tidak ada lagi yg melakukan panen."**(VEN/MEDIAKUPANG.COM)

Editor: Marselino Kardoso

Terkini

Terpopuler